Rabu, 16 Maret 2011

Penuaan Manusia Mirip Simpanse, Gorila, dan Primata Lain

Manusia punya umur yang setara dengan umur primata meskipun manusia memiliki tingkat kehidupan yang lebih tinggi--teknologi, pakaian, obat-obatan, dan lainnya.

Anne Bronikowsi dan timnya dari Department of Ecology, Evolution and Organismal Biology di Iowa State University mendapati kalau wanita memiliki kemiripan dengan gorila dalam hal kematian bayi. Dalam hal laju penuaan, wanita memiliki kemiripan dengan simpanse, sifaka, babon, dan muriqui.

Sementara itu, pria sedikit lebih lambat menua dibandingkan dengan primata. "Tapi perbedaannya sangat tipis," kata peneliti. "Bisa dibilang, penuaan pada pria mirip dengan penuaan pada wanita dan primata lain dalam studi ini," tegas Bronikowski.

Bronikowski membandingkan data hasil penelitian jangka panjang mengenai manusia dan primata-primata liar, termasuk monyet dari Costa Rica, Brazil, babon dan monyet biru dari Kenya, simpanse dari Tanzania, Gorila dari Rwanda, dan lemur dari Madagaskar.

Seluruh primata, seperti manusia, mengalami tingkat kematian bayi yang tinggi, diikuti oleh tingkat kematian rendah pada remaja, dan kenaikan tingkat kematian di usia yang lebih tinggi. Karena pola ini serupa pula pada seluruh hewan, peneliti melihat lebih fokus pada laju kematian awal dan peningkatan laju kematian pada usia tertentu.

Profesor Cale Finch dari Ethel Percy Andrus Gerontology Center, yang pada tahun 1990 menerbitkan artikel tentang monyet yang kecepatan penuaannya sama dengan manusia, mengatakan kalau penelitian ini mendokumentasikan pengaruh lingkungan terhadap kematian manusia dan primata selama proses penuaan. "Studi ini dan studi berikutnya penting bagi kelangsungan hidup manusia," katanya.

Gempa Di Haiti

Tahun 2010 baru berjalan 12 hari ketika gempa bumi memorakporandakan Port-au-Prince, Haiti. Gempa tersebut mengakibatkan 200 ribu orang meninggal dan 1,5 juta orang kehilangan tempat tinggal. Setelah gempa, ilmuwan mendapati patahan baru yang belum pernah terpetakan. Gempa bumi meningkatkan tegangan pada patahan sehingga berpotensi untuk mengakibatkan gempa besar.

Pada 27 Februari, Chili dilanda gempa. Dengan kekuatan 8,8 Skala Richter itu mengubah lanskap dengan menaikkan daratan sekitar 2,4 meter di daerah pesisir. Menurut laporan tanggal 15 Mei 2010, jumlah korban mencapai 521 orang dan 56 dinyatakan hilang.

Ozon di Kutub Utara terus Menipis

Lapisan ozon di Kutub Utara terus mengalami penipisan. Temperatur udara yang relatif rendah sejak akhir tahun lalu mendorong penipisan ozon pada sebuah rekor baru.

Penipisan lapisan gas yang melindungi bumi dari radiasi ultraviolet (UV) yang dipancarkan matahari ini terdeteksi oleh lebih dari 30 stasiun pemantau yang tersebar di daerah kutub utara dan sub-arktik. Hasil pengukuran menunjukkan, separuh lapisan ozon pada ketinggian 20 kilometer telah mengalami kerusakan hanya dalam waktu seminggu.

Menurut Markus Rex, ilmuwan dari Alfred Wagener Institute (AWI), Jerman, yang memantau lapisan ozon, kerusakan diperkirakan masih akan terus terjadi karena kondisi yang menyebabkan terjadinya penipisan ozon masih terus berlangsung. Oleh karena itu, Rex merekomendasikan perhatian ekstra berupa perlindungan terhadap radiasi UV yang memadai pada musim semi tahun ini.

Kerusakan ozon terjadi disebabkan chlorofluorocarbons (CFCs) yang berubah menjadi zat agresif serta merusak ozon ketika terpapar udara yang sangat dingin. Para ilmuwan mengaitkan fenomena kerusakan ozon dengan perubahan iklim, terutama ketika musim dingin lalu temperatur udara terasa lebih dingin yang menyebabkan kerusakan yang lebih parah pada lapisan ozon.

Untuk mencegah kerusakan yang lebih parah terhadap lapisan ozon, sebuah kebijakan lingkungan internasional yang dinamakan Protokol Montreal telah diberlakukan. Berdasarkan protokol tersebut, penggunaan bahan berbahaya CFC dilarang di seluruh dunia mulai tahun 1987. 

Meski demikian, CFCs yang telah dilepas ke udara pada dekade sebelumnya akan tetap ada di atmosfer hingga berpuluh tahun mendatang. Oleh karena itu, nasib lapisan ozon di kutub utara sangat bergantung pada temperatur udara di stratosfer yang berada pada ketinggian sekitar 20 kilometer di atas bumi yang sekaligus berhubungan dengan perubahan iklim bumi. 

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons